javafred.net  
 
     r e a d i n g s
 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003
Source http://www.sinarharapan.co.id/berita/0407/21/hib01.html

Pameran "New Works"
Menyelami Empat Bahasa Rupa dari
Empat Pelukis

Sihar Ramses Simatupang

JAKARTA – Empat seniman lukis menampilkan karya-karya baru di Galeri Taksu, Jl. Kemang Barat 5-7 Jakarta. Pameran berlangsung sejak 16 Juli hingga 30 Juli mendatang.

Stefan Buana, Antonius Kho, Joko Sulistiono dan Erizal AS memiliki satu kesamaan dalam karya-karya mereka, yaitu menampilkan guratan bidang dan warna yang tegas, baik warna cerah maupun gelap dan buram. Ketegasan itu tampak jelas dengan penggunaan media akrilik, cat air ataupun media campuran untuk disajikan di atas kanvas.

Para pelukis ini sesungguhnya telah lama berproses di dunia seni rupa. Judulnya berupa ”Karya Baru” memperlihatkan karya-karya satu atau dua tahun belakangan. Tahun penciptaan ini juga memperlihatkan arah karya mereka – termasuk juga perkembangan dari setiap pelukis.

Joko Sulistiono, terutama dalam pameran ini, kental dengan idiomnya yang khusus: berupa kuda dan perempuan bidadari. Dunia kuda dan dunia bidadari adalah merupakan simbol pribadinya, penggambaran sosok ”lelaki liar dan lepas” dengan ”perempuan yang indah”. Itu dimunculkan pada karya-karyanya antara lain ”Beauty Spirit” (2004), ”Lelaki Kuda dan Seorang Bidadari I” .

Lukisannya yang umumnya dituangkan dengan media cat minyak antara lain ”Meraih Cahaya II” (2004), sekalipun berkontur tebal, dituangkan dengan warna-warna dasar yang lebih cerah. Tebal, merupakan representasi ide yang dia inginkan untuk karyanya.

Antonius Kho, dengan media campuran – termasuk akrilik dan karung goni – yang terpresentasikan lewat kanvas, namun ada yang menonjol dan semuanya kemudian digabungkan dengan kayu-kayu sehingga terkesan sebuah kotak-kotak puzzle berukuran besar, memperlihatkan karya yang lebih ke bahasa rupa terutama pada ”Wajah-wajah yang Disalibkan” (2003), berupa objek-objek wajah manusia. Simbol ini menurutnya punya makna religius tentang penyaliban. ”Itu wajah orang-orang. Semua kita akan disalibkan dan menanggung beban kita menanggung beban,” katanya.

Begitu pun pada karyanya yang lain, misalnya ”Air Susu Ibu” (2004) memperlihatkan bahan semacam plastik atau fyberglass dan keluar dari kanvas. Karya itu sama dengan karya ”serigrafi” tiga adegan pada karyanya yang berjudul ”Terlelap” (2003), ”Bercanda” (2003) dan ”Manja I” (2003), yang memperlihatkan hubungan ibu dan anak.

Lelaki dan Warna Suram
Erizal dalam karyanya memperlihatkan karya akrilik berupa sosok lelaki dengan garis-garis yang tebal, ditambah guratan pensil hitam yang arbitrer di atas figur wajah objeknya. Terkadang berupa gemulung awan, bunga, awan atau bentuk lain yang simbolik menutupi wajah objek manusia yang digambarkannya sangat maskulin.

Wajah atau tubuh objek manusia sedikit mengalami deformasi – dengan warna cenderung buram — justru memperlihatkan kesan dan karakter. Karyanya yang berjudul ”Kisah di Atas Awan” (2004), ”Seribu Payung Hitam” (2004). ”Saya juga memperlihatkan dua sosok perempuan dan lelaki,” tambahnya.

Menurut Erizal, penggambaran objek lain berupa awan dan yang lain itu merupakan ekspresi artistiknya. Objek yang dituangkan dengan media akrilik digurat dengan arsiran pensil. Ada beberapa karyanya yang memperlihatkan juga buah apel yang punya makna metaforik pada tiga lukisan antara lain ”Kisah di Atas Awan” (2004), ”Inner Beauty” (2004) dan ”Sebuah Harapan”. Karya ”Membuka Mata Hati” (2004) dan ”Sebuah Harapan” (2004), menurutnya lebih membuka mata dan kejiwaannya.

Stefan Buana memperlihatkan kontur tebal dengan timpaan warna yang minimalis. Kesan buram pada media campuran, terkesan berupa kumpulan pasir berwarna di atas kanvas, memperkuat warna muram pada karyanya. Ada guratan warna prada di tengah warna gelap dan tegas di media campurannya pada lukisan yang berjudul ”Bukan Etalase Tokoh tapi Etalase Tokoh”. Sedangkan lukisan ”Sisir Hitam” (2004) menegaskan goresan palet di tengah media tebal yang mengisi kanvas di karyanya.

Dengan karyanya yang sangat simbolik itu, Stefan ternyata cukup perduli pada kondisi sosial terutama tema pemilu sebagaimana yang terlihat pada karyanya ”Membuka Kemungkinan” (2004) sekalipun diolah sangat kontemplatif dengan penggambaran pintu-pintu yang banyak dengan satu pintu menampilkan wajah lelaki.