KORAN TEMPO
Senarai
Interupsi Lima Pelukis di Galeri Millenium
Lima pelukis Indonesia tengah mengadakan pameran bersama di Galeri Milenium, Komplek Pertokoan Golden Plaza, Jl. RS Fatmawati 15 Jakarta. Mereka adalah Chandra Johan, Irawan Karseno, Syahnagra Ismail, Yoes Rizal, dan Yulianto Liestiono. Mereka berlima menamai pameran bersama ini sebagai Interupsi .
Seluruh lukisan yang dipamerkan berjumlah 24 karya. Candra menampilkan empat karya terbarunya, Yoes Rizal lima buah, Irawan Karseno sebanyak empat lukisan, Syahnagra enam lukisan, dan Yulianto lima karya. Beberapa karya di antaranya menampilkan lukisan berseri dalam satu judul, misalnya Nomor I karya Yulianto Liestiono yang terdiri dari tiga buah lukisan dan lukisan tentang Cisaat karya Irawan Karseno.
Pemilihan tema Interupsi untuk pameran bersama ini diawali oleh seringnya diskusi yang terjalin di antara mereka berlima. Diskusi itu melibatkan banyak hal, mulai dari masalah seni rupa sampai peradaban urban yang terjadi di Jakarta. Peradaban urban inilah yang kemudian banyak mereka tampilkan di sini.
-- dewi ria utari |
SINAR HARAPAN
29 Oct. 2001
Pameran Lukisan “Interupsi” Ekspresi Seniman Urban di Tengah Hiruk-pikuk Kota
Pameran Lukisan “Interupsi” Ekspresi Seniman Urban di Tengah Hiruk-pikuk Kota Jakarta, Sinar Harapan Lima pelukis mengadakan pemeran dan menyajikan karya yang sarat dengan konsep dan bentuk di Galeri Milenium, Jakarta, hingga 18 November mendatang. Mereka adalah Chandra Johan, Irawan Karseno, Syahnagra Ismail, Yoes Rizal, dan Yulianto Liestiono. Pameran yang diberi judul “Interupsi” itu mengangkat karya terbaru mereka yang diberi landasan pluralisme, keurbanan dan kosmopolit.
Objek stupa menjadi pilihan Chandra Johan. Dalam pameran ini, ia menggelar lukisan-lukisan berjudul Stupa I, Stupa II, Stupa III, dan Stupa IV. Menurut Chandra, stupa merupakan alat atau representasi dari karya lukisnya. Walau hanya sebagai representasi, pilihan itu beralasan karena ia mengaku tersentuh oleh keagungan Borobudur, sebagai unsur paduan stupa yang lebih lengkap.
Tak ada satu unsur style yang dominan pada karyanya. Sebab, Chandra mengaku telah memadukan berbagai unsur style yang ada dalam aliran seni lukis. Pada salah satu lukisannya, terlihat unsur kolase. Ada beberapa bidang, namun semuanya utuh dan saling terkait. Seakan sebuah puzzle—ada yang tak selesai, namun berhasil memberikan pesan dan style. “Anda bisa terganggu saat melihat lukisan saya, sebab ada stupa yang ‘terpotong',” katanya. Seniman punya bahasa, dan Chandra Johan berbahasa lewat lukisannya.
Syahnagra Ismali kali ini menyajikan lukisan-lukisan yang berjudul Rumah-rumah di Bukit, Pinggiran Ciliwung, Hutan Putih, Kota Kejauhan, dan Semak-semak. Karya yang ditawarkannya memberikan kesempatan buat penikmat untuk menangkap suasana dari “miniatur sebuah pemandangan dari kejauhan”.
Menurutnya, lukisan-lukisan itu dibuatnya dengan memadukan perasaan. “Saya bosan dengan bentuk yang halus, yang kasar, ada ekspresi. Kadang saya ingin mencari yang cocok dengan perasaan, terasa hidup dan punya penekanan yang lain,” katanya.
Ada guratan cat air yang tebal dengan tekstur. Tekstur itu kemudian ditimpa dengan warna-warna di depannya. Objek-objeknya terlihat kecil di atas bidang luas. Hasilnya menarik, seperti melihat pendaran lampu dan garis-garis kota dari atas bukit.
Minimalis
Pelukis lain, Yoes Rizal, menggelar karya-karyanya, antara lain berjudul Figure & Scribbles, Green Figs dan Splashing Figs. Lukisannya yang menonjol dalam bentuk figur itu sebenarnya mengangkat tentang ekspresi kemanusiaan. “Tapi saya tak cerita tentang kesedihan dan derita. Yang saya angkat anatomi saja, formalisme, bentuk sebagai bentuk dan warna sebagai warna,” katanya.
Memang tak ada cerita penderitaan dalam figur manusia karyanya. Yang muncul justru suasana optimisme, terutama manusia yang hidup, bergerak dan dinamis.
Meski Yoes mengatakan sesuka hatinya dalam memilih warna, yang terlihat dalam karyanya justru tidak penuh warna dan cenderung satu warna. Semisal warna cokelat atau merah saja tanpa dipadu dengan larutan warna lain.
Pada bentuk, ia juga mengangkat sosok manusia yang tidak ramai. Karena menurutnya, bila saat melukiskan satu manusia, ia mewakili personifikasi manusia lain, maka dia tak perlu membuat manusia dalam bentuk yang ramai. Yoes mengakui dia minimalis, baik dalam karya maupun representasinya.
Sedangkan Yulianto Liestiono menampilkan lukisan-lukisan yang minimum dalam objek dan warna. Dalam salah satu lukisannya, ia hanya mengguratkan tiga warna hingga mengesankan garis bercabang. Ada cetakan huruf-huruf di atasnya. Mengapa begitu sederhana tanpa menggambarkan objek apa pun? “Tak ada sesuatu yang khusus. Saya membuat objek, yang akan memancing rangsangan pemikiran pada si penikmat,” katanya.
Ia mengatakan bahwa bila lukisan mengandung banyak pesan, bisa saja dia membuatkan poster. Lukisan tak hanya bermakna si pelukis ingin bicara pesan melalui media karyanya. “Kalau mau memberikan pesan, kan tinggal ngomong,” katanya.
Persoalan rutinitas di kota Jakarta menjadi sebab ia memilih bentuk yang minimalis semacam itu. Menurutnya, lukisannya tak terpengaruh oleh teknik dan pewarnaan. Warna yang dipilihnya adalah hitam, putih dan cokelat. “Tak usah perfek, karena itu jadi beban,” katanya.
Pelukis terakhir, Irawan Karseno menggelar karya-karya seni bernuansa “romantisme agraris”, seperti, Bosan Lihat Politisi Gua Nggambar Pemandangan, Kapal Api, dan Pemandangan. Imajinasinya tentang pedesaan, dengan bentuk yang abstrak namun detail. Terkadang Irawan membuat tulisan “ini kapal” atau “perahu” atau “rumah” di atas objek lukisannya. Dengan bentuk yang kekanak-kanakan dan naif. Untuk teknik, dia memang mix media—terkadang crayon, cat minyak yang dibuatnya saling bertumpuk di atas kanvas.
Seniman dan Urbanisasi
Urbanisasi yang terjadi di kota Jakarta tak bisa disangkal juga melibatkan para seniman atau pendukung seni rupa modern dan kontemporer. Ada jarak yang menjadi acuan bagi seniman untuk bisa menjangkau masyarakat. Karya seni yang dihadirkan tak lepas juga merupakan manifestasi dari sebuah kebudayaan kota.
Menyitir pendapat St. Syahrir, sebenarnya soal kehidupan kotalah yang menjadi penyebabnya. Alam pikiran desa dan dusun dengan perkembangan yang berlaku di masa akhir di negeri kita bertambah lama bertambah jauh dalam pikiran pusat kehidupan kebudayaan yang bertempat di kota. Kebudayaan pun bersifat kebudayaan kota. Menurut Syahnagra, seni itu tak berarti apa-apa tanpa sikap dan jiwa. Sikap itu lebih indah dari seni. Sebab, ialah yang mendahului seni. Sikap dan jiwa juga yang melatari setiap seniman yang terlibat dalam pameran ini. Di tengah udara dan hiruk-pikuk kota, Irawan Karseno merindukan pemandangan alam dan pedesaan. Sikap itu juga yang termanifestasi dalam bentuk perenungan seorang seniman. Dengan otentisitas, orisinalitas dan keunikan masing-masing, setiap seniman bersuara tentang kondisi masyarakatnya. Muncullah pelukis dengan sikapnya masing-masing.
Syahnagra lalu bernostalgia dan beromantisme agraris tentang bukit-bukit. Atau Yoes yang menghadirkan figur manusia yang optimistik dan melepaskan penderitaan hidup. Yulianto yang membuat bentuk yang tak ruwet. Irawan yang melukis dengan pernik khayalan tentang alam dalam guratan yang naif. Pameran ini, menurut Syahnagra Ismail, salah satu pelukis yang ikut dalam pameran, juga merupakan langkah awal yang akan diteruskan dengan pameran akbar Urbanus Art yang rencananya melibatkan seniman-seniman urban Jakarta pada tahun 2002. (srs) |