javafred.net

 
 

 
     r e a d i n g s

 

 

Minggu, 22 Juli 2001 Sanggar Dewata, Bali, dan Pasar Seni

Sanggar Dewata Indonesia, 2001

KERAMAIAN performance arts memperjelas wajah Bali dari pameran seni rupa 30 Tahun Sanggar Dewata Indonesia ini. Pertunjukan itu berlangsung 17 Juli untuk membuka pameran yang berlangsung sampai 26 Juli 2001 di Galeri Nasional, Jakarta.

Dalam pertunjukan itu berpuluh aktor yang berbalut kain putih berjalan pelansambil memainkan gamelan Bali serta kentongan bambu, mengikuti seorang pendeta beserta usungan berisi sesaji. Mereka beriring dari samping belakang menuju arah depan gedung.

Sebagian besar kemudian duduk bersila membentuk formasi melingkar seperti Cak, dan di bagian tengah di samping barong dan rangda seorang penyair (IGP Bawa Samar) menyandang kain poleng membacakan sajak. Sajak dan olah gerak dengan erangan dan teriakan panjang para aktor, di sela paduan suara "cak.. cak... cak..", menjadi isi pertunjukan.

Meski sebagian besar aktor berasal dari Solo, serta sesekali sang penyair berbicara dalam bahasa Indonesia, secara keseluruhan acara pembuka itu memberi sapuan warna Bali. Hal ini perlu dinyatakan mengingat kenyataan bahwa Sanggar Dewata Indonesia (SDI) ternyata tidak seluruhnya Bali. Ada sejumlah orang -untuk menyebut hanya beberapa nama-seperti Heri Dono yang orang Jawa, Yanuar Ernawati asal Minang, bahkan Midori Hirota dari Jepang, yang tercatat sebagai warganya.

"Siapa pun boleh ikut sanggar kami, asal bisa menyesuaikan diri dengan kami," kata I Made Arya Palguna, Ketua SDI Yogyakarta yang sekaligus menjadi ketua panitia pameran bersama ini.

Begitulah SDI yang didirikan oleh enam seniman Bali perantauan di Yogyakarta tanggal 15 Desember 1970 menjadi semakin terbuka. Para pendiri itu (Nyoman Gunarsa, Pande Gede Supada, Made Wianta, Wayan Sika, Nyoman Arsana, dan Wayan Arsana) terdidik di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang kemudian disebut STSRI "ASRI" (kini Institut Seni Indonesia) di Yogyakarta. Demikian pula para anggota yang bergabung kemudian. Para perantau memanfaatkan SDI sebagai tempat berhimpun, saling bertandang, menggagas pameran bersama yang umumnya berlangsung tiap tahun. Keahlian melukis atau pertumbuhan wacana, menurut beberapa anggota, mereka dapatkan di dalam pendidikan formal atau pergaulan di kampus, maupun dengan berbagai seniman lain.

"Kalau berdiskusi kan bisa dengan siapa saja," kata Mahendra Toris, Udiantara, Sudarna Putra, Putu Sutawijaya, dan Pande Ketut Taman, di dalam kesempatan terpisah.

Mereka berasal dari Bali, umumnya kuyub dengan adat dan tradisi seni setempat, dan seperti para pendahulu mereka menjadi berjarak secara fisik dengan kultur asal dengan menetap di sebuah kota berpenduduk heterogen. Jarak fisik, pendidikan formal, dan pergaulan baru itu kemudian bisa dipahami juga sebagai jarak kultural.

Semua ini merupakan pendorong tumbuhnya seseorang untuk melakukan eksplorasi seni sejauh mungkin. Hal itu tercermin dari karya-karya yang mereka hasilkan. Pameran yang diikuti 90 seniman dengan rata-rata sebuah karya ini praktis memperlihatkan pencapaian umum seni rupa Indonesia, karena banyak di antara mereka ini pulalah yang ikut menggerakkan perkembangan seni.

Para seniman dari generasi pertama SDI boleh dilihat sebagai para pembaharu pada masanya ketika muncul dengan karya-karya yang berbeda dari para pendahulu. Meski demikian, mereka masih menampakkan ciri-ciri budaya asal. Sebutlah itu Nyoman Gunarsa, yang dikenal luas lewat penekanannya pada rasa irama dengan pokok wayang atau penari. Made Wianta (keluar dari SDI tahun 1980an dan tidak ikut pameran) sempat menampakkan ke-Bali-an lewat permainan garis hitam putih yang mirip rerajahan atau kaligrafi Bali. Wayan Sika menggunakan ikon-ikon Bali dengan gaya ekspresif.

Sebut pula generasi kedua seperti Made Djirna, IGN Nengah Nurata, Nyoman Erawan, Made Budiana, dan sejumlah lainnya. Dengan cara masing-masing ciri fisik atau semangat ke-Bali-an masih sering muncul di dalam lukisan, instalasi, atau performance art mereka.

Hal serupa terus bermunculan dari angkatan ke angkatan lain sampai Nyoman Sukari atau Mahendra Toris, yang sempat memunculkan ikon atau ciri Bali bahkan di dalam lukisan yang cenderung abstrak.

Namun tak sedikit dari mereka yang umumnya berusia di bawah 30 tahun itu, yang terkesan lepas dari kaitan dengan budaya asal. Sebutlah itu seperti Sumadiasa dengan sapuan-sapuan besar yang cenderung abstrak. I Made Arya Palguna, I Nengah Sujena, atau I Nyoman Masriadi, yang menggunakan sosok manusia di dalam olahan bentuk sedemikian rupa sehingga terasa ganjil, rasanya lebih bertumpu pada pengalaman-pengalaman baru mereka termasuk pengalaman yang bersifat visual.

Nama-nama itu disebut untuk melihatnya di dalam perspektif lain, yaitu perdagangan karya seni. Menarik untuk melihat kaitan antara kekuatan pasar yang besar dengan praktik berkesenian. Dalam hal ini Bali menonjol seperti terlihat di dalam kenyataan pasar terutama di Jakarta.  

SDI lahir sewaktu pasar karya seni belum tumbuh, atau paling tidak belum bergairah seperti sekarang. Sanggar ini tetap hidup, lebih panjang umurnya dibanding kebanyakan sanggar lain termasuk Sanggar Bambu yang dianggap legendaris. Umurnya kini mencapai 30 tahun, ketika pasar karya seni berkembang pesat, bahkan sangat marak sementara berbagai infrastruktur dunia seni rupa rapuh.

Peran SDI di dalam kancah pasar tidak terlihat. Hal ini berbeda dengan Pita Maha pada tahun 1930an, yang membantu memasarkan karya para anggotanya. Perubahan isi maupun bentuk pada karya-karya seniman Bali semasa Pita Maha yang dipicu oleh pandangan baru dari seniman asing Rudolf Bonnet dan Walter Spies hanya satu sisi dari peran perkumpulan itu. Sisi lain yang tak kalah penting adalah hubungannya dengan pasar: karya seni yang semula lebih bernilai sakral atau sosial, tiba-tiba mendapat makna komersial.

Sebuah pandangan spekulatif bisa dilontarkan, misalnya seperti peran pasar (yang merupakan pemahaman baru terhadap posisi karya seni) telah ikut menjadi katalisator di dalam perkembangan seni rupa di Bali yang pada waktu itu perubahannya signifikan. Pertanyaan lanjutan, apakah peran serupa dimainkan oleh SDI?

Pada zaman SDI, anggota meraih keberuntungan pasar dengan cara masing-masing. Nyoman Gunarsa, seperti disebutkan oleh pelukis senior Abas Alibasjah ketika membuka pameran ini, sempat bekerja di Pasar Seni Ancol yang kala itu dilecehkan. Made Wianta merintis pasarnya antara lain di Belgia, dan kini kokoh dengan relasinya dari berbagai negeri.

Para seniman generasi lebih muda membina hubungan khusus dengan pemilik galeri atau art dealer. Ketika menyiapkan pameran besar memperingati setengah abad seni lukis Bali baru, pihak Bentara Budaya Jakarta mesti melobi para pemilik galeri atau art dealer agar seniman yang karya-karyanya tengah mereka kumpulkan bisa ikut berpameran. Beberapa seniman itu terikat janji untuk melunasi jumlah karya, sehingga sulit untuk sesuatu pihak lain biarpun atas nama kegiatan apresiatif untuk menyelanya.

Apakah pasar berpengaruh pada penciptaan bisa dianggap pertanyaan yang kurang ajar. Sejumlah kabar burung menyebutkan banyak seniman, termasuk yang bernama Bali, memanfaatkan "aji mumpung" untuk memenuhi kebutuhan pasar. Kabar yang sulit mendapat konfirmasi ini mencerminkan realitas kehidupan seni, bahwa Bali adalah kekuatan besar di dalam pasar karya seni, namun sekaligus juga potensi besar di dalam perkembangan karya seni.

Apakah SDI cukup menjadi wadah berkumpul atau bisa menjalani fungsi lain untuk membantu menumbuhkan infrastruktur seni rupa? (efix)

Thanks go to Yoes Rizal & Michelle Chin for this information