javafred.net  
 
     r e a d i n g s
 

 

 

Kompas, 16 Aug. 2003


Wajah Seni Meledek Agus Suwage

MENGENDARAI becak tidak semudah yang dibayangkan. Kaki kita harus cukup kuat untuk menggenjot pedal, tangan harus kukuh mengatur kemudi yang berat. Agus Suwage melakukannya di bawah terik matahari Yogyakarta untuk pemotretan proyek seni. Hasilnya tampil dalam pameran tunggalnya di Galeri Nasional, Jakarta, 8-18 Agustus 2003.

"Tentu saya tidak mendayung pedal ke mana-mana sejauh itu. Kita bawa mobil, sampai di lokasi barulah saya yang main…, " katanya.

Ia mengajak pemotret profesional, Rama Surya, yang berhasil membujuk sepasang pengantin agar mau dilibatkan di dalam proyek seni ini. Tuturnya, "pengantinnya malah seneng kok."

Tiga karya instalasi lainnya yang juga tampil di dalam pameran, melibatkan tukang atau temannya yang mahir.

"Untuk membuat karya seni instalasi, kita sering membutuhkan orang lain. Coba lihat, untuk proyek digital print ini saja saya dibantu istri saya yang motret."

Kerja sama dengan istri tersebut untuk menyiapkan karyanya Holy Beer dan Kawan-kawan, yang terdiri dari lima bagian. Pada satu bagian, ia butuh foto dirinya dalam keadaan telanjang bulat berlilit kabel dengan serangkaian lampu yang menyala.

"Rasanya panas. Eh, belum rampung istri saya memotret, ia harus lari ke luar kamar untuk menjawab telepon. Wah, kalau kelamaan bisa panas nih… Anak saya pengin tahu, mengintip dari balik pintu. Lucu banget," tuturnya.

AGUS Suwage adalah salah satu perupa masa kini yang menonjol. Sebagaimana banyak terjadi pada rekan-rekannya, ia juga bekerja secara lintas batas. Ia melukis dengan berbagai cara serta membuat seni instalasi.

Karya instalasinya belumlah sebanyak pendahulunya, seperti Heri Dono atau Entang Wiharso misalnya, meski menurut kalangan peseni gagasan dan cara ungkapnya kuat dan menarik untuk dilihat. Ia mengaku selalu butuh untuk mengungkap gagasan tidak hanya lewat karya-karya dwimatra. Tuturnya, "Sebenarnya itu bisa dengan cara atau teknik apa saja yang saya sedang kepengin."

Dengan kata lain, ia selalu ingin mencoba hal-hal baru. Karya serialnya dengan teknik digital print yang diimbuh dengan sapuan akrilik di atas kanvas adalah salah satu contohnya. Katanya, "Saya pengin membuat sosok diri saya di dalam berbagai citraan, saya pikir bakal seru. Pakai kamera digital, ya, yang kecil itu, seperti enggak meyakinkan ya? Tapi bagus."

Semua model di dalam karya-karyanya ini memang adalah dirinya sendiri. Terkadang hanya wajah yang ia bubuhi telinga berwarna merah, wajah yang ia tutup dengan sekuntum bunga, atau wajah yang pada bagian atas membentuk lidah api. Di sana ia memasang berbagai mimik, namun kebanyakan seperti setengah tersenyum atau menyeringai, atau meledek. Tampaknya ia tengah mempertanyakan sesuatu, atau sedikitnya meragukannya.

"Saya memang menggunakan idiom muka saya sendiri untuk mengekspresikan gagasan. Kalau mau mengkritik orang atau keadaan, tengok diri sendiri dululah," tutur Suwage, yang di dalam beberapa lukisannya tampil tidak hanya dengan wajah tapi dengan seluruh tubuh.

Menurut Agus Suwage, menggunakan model diri sendiri lebih banyak enaknya. Sang model selalu tersedia kapan saja dibutuhkan dan sangat murah karena gratis. Itulah yang ia lakukan sejak membuat lukisan-lukisan potret diri pada tahun 1995 hingga sekarang.

LELAKI kurus berkepala pelontos kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, tahun 1959 ini sudah tekun berkarya sejak masih mahasiswa Desain Grafis Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1979-1986, bahkan mengikuti Biennale DKJ di Jakarta. Namun, ia masih menganggapnya sebagai ’hobi’ belaka. Tahun 1987-1994 ia bekerja di sebuah biro grafis Work Gallery di Jakarta, yang mengerjakan pesanan buku, brosur, katalagous, logo, company profile, dan ikut membujuk klien yang ia kenang sebagai "makan ati".

Ia mengaku baru mulai percaya diri sesudah diundang ikut pameran di Belanda tahun 1993, dan akhirnya sepenuhnya keluar dari kantor untuk sepenuhnya melukis.

Publik kemudian melihatnya berkembang pesat, antara lain ia sempat menang di lomba seni Philip Morris. Ia pun menghasilkan sejumlah karya yang kuat, yang sebagian di antaranya dikoleksi sejumlah museum seperti Fukuoka Asian Art Museum dan Museum of Contemporary Art Tokyo-keduanya di Jepang, Canvas World Art di Belanda, Queensland University of Technology di Australia, dan Singapore Art Museum.

Ia cukup produktif dan sejak yang pertama tahun 1995 sampai 2003 ini ia telah berpameran tunggal sampai sembilan kali. Tak terhitung pameran bersama yang ia ikuti.

Agus Suwage sempat menjadi eksponen seni rupa kontemporer yang menggarap berbagai peristiwa sosial untuk bahan karya-karyanya. Sebutlah itu karya-karya yang berkonteks sosial, yang menjadi primadona di dalam perbincangan seni pada tahun 1990-an.

Sebuah karyanya yang berjudul Daughter of Democrazy, yang dibuatnya pada tahun 1996 banyak diperbincangkan orang, menandai masa subur seni kepedulian sosialnya tersebut. Kini ia mengaku tengah bergeser.

"Saya capai kalau terus-menerus menggarap soal-soal itu. Reformasi? Seperti enggak ada habisnya, ya, saya menggarap apa yang saya suka," tuturnya.

Pada dasarnya ia mengakui kondisi dan situasi di luar diri berpengaruh di dalam proses berkarya. Tuturnya, "Saya penggemar Francesco Clemente, pelukis Italia yang belajar arsitektur dan otodidak. Terutama karya cat airnya, saya kagum teknik dan konsepnya, tapi juga karyanya yang eksotik karena ada pengaruh Hindunya."

Kecintaan pada musik bahkan telah membuat gairahnya melukis tinggi dan melahirkan sejumlah lukisan yang memikat, yang merujuk pada lagu dari The Beatles atau Gratefull Dead. Ia mengoleksi sejumlah alat musik, bahkan membangun studio khusus di rumahnya dengan peralatan band cukup lengkap termasuk untuk membuat rekaman.

"Saya suka main musik bersama teman-teman," tuturnya. "Saya punya tiga gitar akustik, tabla, kendang, siter Jawa, cello kroncong, jembe, dan sejumlah alat musik Afrika."

Maka, bisa dibayangkan seperti apa rumahnya di Yogyakarta. Biantara dari Nadi Gallery yang tiga kali menyelenggarakan pamerannya mengungkap betapa terbuka rumah Suwage. Katanya, "Praktis 24 jam setiap orang bisa keluar masuk.

"Menurut Suwage, ia memang punya banyak teman, di antara mereka adalah para perupa muda yang suka bertandang ke rumahnya. Tambahnya, "Kita sama-sama tahu, kalau saya lagi melukis, ya, mereka tidak mengganggu."

PERNIKAHANNYA dengan perupa Tita Rubi, yang juga lepasan Seni Rupa ITB, dikaruniai dua anak. Yang sulung, Carkul Tera Wage Sae, sudah duduk di kelas lima SD, si bungsu Gendis Genclang Hatena Wage Sae, yang baru dua tahun. Suami istri seniman ini kadang sama-sama berpameran seperti saat ini, suami di Galeri Nasional dan istri di Edwin’s Gallery.

Siapa yang merawat anak?

"Tita, tapi saya juga mengajak mereka jalan, atau kalau ke luar negeri membeli baju," tutur Suwage. (IPONG PS/ EFIX)