javafred.net

 
 

 
     r e a d i n g s

 

 

SUARA PEMBARUAN DAILY, Jan. 2002


Lukisan Spektakuler Lucia Hartini

ISTIMEWA

EYANG ISMOYO - Sebuah lukisan karya Lucia Hartini berjudul ''Eyang Ismoyo'' (Semar) dibuat tahun 2001.

LUCIA Hartini salah satu pelukis wanita Indonesia yang beraliran surealis. Dia telah memberikan warna tersendiri dalam wacana seni rupa Indonesia. Mulai Rabu (31/1) - Minggu (10/2), Lucia akan mengadakan pameran tunggal yang diberi judul Spirit of Life di Bentara Budaya Jakarta.

Dia akan memamerkan 13 karyanya. Sebagian merupakan karya-karya misteri. Karena lukisan-lukisan itu dibuat setelah dia mengalami proses penyembuhan atas suatu penyakitnya yang berkepanjangan. Lucia menjalani pengobatan alternatif.

Lucia

Seperti pada lukisan cat minyak di atas kanvas 150 X 200 cm yang diberi judul ''Payung''. Lusia mengaku, pada waktu itu dia tidak tahu siapa yang dilukisnya. Wajar jika beberapa pengamat menilai Lucia Hartini (42) sering melukiskan sesuatu di luar kelaziman.

Dr M Dwi Marianto MA misalnya menyebut karya-karya alumnus Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) itu sering mengejutkan karena begitu spektakuler, penuh energi, dan mengandung berbagai kiasan yang mengundang tanda tanya.

Dalam lukisan berjudul ''Nuklir Dalam Wajan'' melukiskan wajan panas yang retak dan nyaris terbalik, seolah-olah merupakan representasi dirinya sendiri. Pelukis wanita bermata sayu ini pernah membuat heboh karena lukisannya yang dibuat tahun 1994 tentang letusan gunung berapi lengkap dengan gumpalan awan panas. Ternyata lukisan itu menjadi kenyataan, karena Gunung Merapi di Provinsi Jateng dan DIY meletus hingga menimbulkan korban jiwa lebih dari 60 orang.

Karena itu dalam pameran kali ini, Dr M Dwi Marianto mengharapkan, karya Lucia Hartini meskipun tentang refleksi dari kondisi sosial politik di tanah air, tetapi bukan sesuatu yang akan terjadi dalam waktu dekat ini.

Cerdik

Lucia kini termasuk pelukis yang punya nama di Indonesia. Karya-karyanya telah banyak dikoleksi para kolektor di dalam dan luar negeri, dan menjadi bahan diskusi dalam berbagai tulisan dan perbincangan seni.

Pelukis Agus Kamal menilai, Lucia cerdik dalam melawan badai yang menghantam kehidupannya. Badai itu berhasil diubahnya menjadi spirit yang bergelora dan bekal dalam berkarya.

Karya-karya Lucia yang berjudul ''Karna Tanding'' (2001) atau ''Spirit of Life'' (2001) , Eyang Ismoyo (2001) dan beberapa lainnya menunjukkan kekuatannya. Sampai-sampai pelukis Nasirun mengaku kagum oleh semangatnya yang luar biasa, sehingga dia pernah menduga Lusia seorang lelaki.

Pameran tunggal di Ben-tara Budaya Jakarta ini adalah yang ketiga kalinya bagi Lucia. Jika yang pertama ta-hun 1992 dibuka oleh istri tokoh Proklamator Indonesia, yaitu Ny Hartini Soekarno, pameran kedua dibuka oleh dosen senior ISI, Sudarso SP. Maka untuk pameran yang ketiga ini Lucia berniat membukanya sendiri.

Alasannya, karena karya yang digelar kali ini adalah penggambaran refleksi perjalanan religius, pencarian makna hidup yang dituangkan dalam kanvas yang rata-rata berukuran besar. (037)

Profile Lucia Hartini