| Rahmat Jabaril
Profile
Works 1 | Download article (PDF, B. Ind., 1995) | Art and Life (S. Murray) |
Works 2 | Kesaksian Rahmat Jabaril di CCF Bandung
| |
|
Born 17 August 1968, Bandung
English
Rahmat Jabaril is a Bandung artist/activist with little formal training as an artist. He studied for about 3 months with Ida Bagus Made in Bali and has been especially influenced by the works of Hendra Gunawan, Marc Chagall and Jean-Michel Basquiat. Beginning at the age of 15, he became an activist for the poor and politically oppressed. This found its apex during the Jakarta and Bandung street demonstrations of 1997-1999. He is also locally involved in discussions and programs aimed at improving the conditions of his neighbors, low-paid worker in a rattan factory closeby. His involvement as a political activist is apparent in many of his works.
|
www.asiaartnow.com
Rahmat Jabaril's dark and brooding canvases offer snapshots of actual events that have taken place in West Java during the past two years. Painted quickly with a pallet of ice whites, blue and black his expressive brushwork depicts demonstrations and riots he attended. Rahmat's paintings leave the viewer with the sensation that one had also observed the ominous scene at hand from an adjacent hillside through the lens of a camera blurring as drops of rain run across it.
Rahmat Jabaril, born on August 17, 1968, (Indonesian Independence Day) in Bandung, is an activist as well as a self-taught street artist. He belongs to the street artist group Gerbong (Train Carriage) in Bandung and actively involves himself with the student and peasant movement in West Java.
Rahmat's dark and brooding canvases offer snapshots of actual events that have taken place in West Java during the past two years. Painted quickly with a pallet of ice whites, blue and black his expressive brushwork depicts demonstrations and riots he attended. Rahmat's paintings leave one with the sensation that one has also observed the ominous scenes at hand from an adjacent hillside through the lens of a camera blurring as drops of rain run across it. |
Bahasa Indonesia
Rahmat Jabaril. Lahir di Bandung, tepatnya tanggal 17 Agustus 1968 (17 August Indonesian independence day) Dia anak kedua dari empat bersaudara. Dia dibangun dari keluarga Nasionalis dan keluarga ahli tarikat (Islamic Spritulization) Dan karena faktor kejujuran dan idealisme yang kuat akhirnya Bapaknya harus meninggal tekanan politik koncoisme Orde Baru. Dan waktu itu rahmat jabaril baru berusia empat tahun.
Akibat kematian Bapaknya, keluarganya harus berjuang menjalani hidup. Begitu pun dengan Rahmat sendiri.
Karena sejak kecil suka mengarang, bercerita lewat gambar, akhirnya ia bisa membiayai kehidupan sekolahnya. Dan beberapa lomba menggambar disekolahnya ia raih dengan kemenangan yang bahagia.
SD (sekolah dasar) SMP (Sekolah menengah pertama) dan SMA (sekolah menengah atas/ high school) yang tidak selesai, akibat kesukaannya pada dunia politik dan spiritual, serta dunia kesenian. Maka sekolah formal diatas tidak ditempuh dengan baik. Maka akhirnya dia lebih banyak bergaul dan bergabung dengan tokoh-tokoh seniman, politikus dan ahli spritual. Juga dia aktif dibeberapa institusi kesenian yang ada seperti ITB, UNPAD, IKJ,STSI, IKIP, etc. Dan tempat-tempat itu ia jadikan terminal dialognya untuk mengungkapkan keresahan-keresahan akan perkembangan kesenian dan kebudayaannya.
Juga rahmat sering mengajak dan mengadakan dengan teman-temanya berupa gerakan-gerakan kebudayaan, seperti : Gerakan Seni untuk Reformasi (sebuah gerakan senirupa dalam keranda politik), juga dia menggagas gerakan kesenian GERBONG BAWAH TANAH, dan sejak tahun 1988 sampai sekarang, ia banyak sekali melakukan pameran di kota-kota di Indonesia (baik tunggal maupun bersama), dan beberapa di luar Indonesia, maka karya-karyanya telah menyebar di beberapa negara seperti Jepang, Singapore, Italia, Austalia, Canada, German, Thailand, Amerika,etc.
Well, begitulah informasi yang dapat kami sampaikan pada saat ini, kami juga sangat berharap, kami dapat memberikan informasi yang lebih luas dan terperinci. Terima kasih.
Compiled by
Moch. S. Nief
Center for Art Studies, Bandung |
|
Sumber: Pikiran Rakyat On-line, 22 Februari 2007
Resensi: Membangun Metode Belajar 'Aksesibilitas
Wisnu, mahasiswa Institut Teknologi Bandung
Observatorium Bosscha didirikan di Lembang. Alasannya karena
pada waktu itu merupakan tempat yang sangat kondusif untuk
penelitian astronomi. Dari segi kependudukan, masih sepi penghuni
sehingga tidak banyak penerangan yang mengganggu proses saat
pengamatan. Saat cuaca cerah, langit akan sangat gelap sehingga
cahaya bintang akan terlihat dengan jelas.
Gelapnya langit malam sangat menguntungkan bagi para
astronom. Dengan begitu, hasil pengamatan akan maksimal. Dari
segi geologi, wilayah itu termasuk yang sangat stabil sehingga
pemasangan alat-alat berat bisa dipermanenkan, karena tak akan
Resist Book - Resensi - Membangun Metode Belajar 'Aksesibilitas' dengan
pendekatan ekologi sosial (keselarasan hidup diri dan
masyarakatnya, serta diri dan alam sekitarnya).
Pada konteks waktu dini untuk anak-anak sekolah dasar,
pengenalan ruang belajar dengan pendekatan lingkungan sekitar
adalah menjadi penting sebab hal itu secara ideal akan memberikan
ruang kesadaran bagi anak-anak sekolah dasar. Jika sejak dini
diperkenalkan mengenai pentingnya alam pada diri manusia
(anak-anak), hal ini akan menjadi alat untuk proses pembacaaan di
mana anak-anak itu harus menjalankan hidupnya dan sekaligus
suatu usaha mengingatkan pemerintah sebagai penguasa
kebijakan.
Dalam kerangka itulah buku ini memfasilitasi anak-anak untuk
belajar langsung tentang Bosscha beserta segala persoalan yang
melingkupinya. Selain itu, mengajak mereka meneliti sekaligus
menuliskan pengalamannya tersebut. Demikianlah, hampir 90 lebih
anak-anak setingkat sekolah dasar menuliskan persoalan situs ilmu
pengetahuan astronomi dan dampak perusakan lingkungan di Kota
Bandung, yang terletak di cekungan.
Buku ini berisi tulisan-tulisan polos namun penuh makna yang
mengungkapkan keprihatinan yang umumnya ditulis anak-anak SD.
Berikut contoh petikannya: "Bosscha penting bagi masyarakat
Indonesia, Bosscha dibangun oleh K.A.R Bosscha. Pemilik
perkebunan teh ini sangat kaya dan setengah kekayaannya
disumbangkan untuk membangun Bosscha. Rahasia benda langit
bisa diketahui karena keberadaannya, tetapi sekarang rahasia
langit jarang bisa diketahui karena peneropongan terhalang polusi
cahaya".
Daya kritis anak-anak itu berdasarkan pengalaman yang dilihat dan
dirasa. Jadi konsep "aksesibilitas" dalam pendidikan di sini adalah
jawaban dari proses belajar yang sesungguhnya. Pada konsep ini
anak-anak akan merasa menghargai sejarah, kekinian, dan daya
renung ke depannya sebagai jawaban atas perkembangan
zamannya.
|
Recent exhibition at the CCF (French Cultural Insitute), Bandung, August 2007. |

Rahmat (left) with Odoyo... http://odoygiantfansclub.multiply.com/notes/item/8
"5 December 2006 'the ikon' ketemu sobat lamanya, Rahmat Jabaril di
Centre Culturel Francais de Bandung. Kayaknya sekitar 10 tahun mereka gak
ketemu sampai sampai pendiri Komunitas Kesenian Bawah Tanah GERBONG ini
minta saya untuk dipoto bareng Odoygiant. huh...huh... mengharukan."
|
|

Bandung, 2000
(photo by GC)

Above: Koordinator KMBB. selama ini saya hanya liat karyanya dipajang di Pikiran Rakyat. nice to meet you :)
(Source: http://pikiiam.multiply.com/photos/photo/3/4
photo rahmat in action)
Below: setelah pohon pertama di tanam, di doain dulu ala sunda buhun. pake sesajen ama hioh..

|