javafred.net

 
 

 
    a r t i s t s

 

Dedy Sufriadi
Profile

Lahir di Palembang tahun 1976.
Sejak tahun 1996 aktif pameran di beberapa kota di Indonesia seperti Yogya, Bandung, Jakarta dan Bali.

Karya seni lukisnya cenderung inovatif dan didasari dari hasil pemikiran yang kritis tentang eksistensialisme atau sebuah filsafat yang menolak pandangan modern. Dia mencoba mengurai dan memahami sesuatu dengan analisa intensional dan diekspresikan ke dalam lukisan. Karyanya sangat simbolik dengan tehnik geometri dan menggunakan media campuran yang hasilnya cukup artistik. Seringkali dalam suatu tema dia garap lukisannya ke dalam beberapa seri, sebab menurut dia kadang-kadang sebuah pemikiran maupun moment estetis dapat dijabarkan dalam beberapa
ide baru yang saling berkaitan.

Walaupun karya Dedy secara komposisi sering memakai tehnik pembagian bidang akan tetapi secara ekspresi cukup intuitif. Muatan atau substansi nilai dalam lukisannya dia dapatkan dari hasil pemikiran filsafat dan pandangan personal tentang kondisi dan fenomena alam secara subyektif. Penghargaan yang telah diraihnya diantaranya: Finalis Winsor And Newton Art Competition 1998, Finalis Nokia Art Award 1999, Finalis Philip Morris Indonesia Art Award 2000 dan beberapa penghargaan dari kampus ISI Yogyakarta.


Press release

[HYPERTEX]
Surfing Teks dalam Narasi Besar

Netok Sawiji_Rusnoto Susanto

Tembi Contemporary dengan bangga segera mempresentasikan sejumlah karya terbaik Dedy Sufriadi pada paket program pameran tunggalnya.  Hypertext merupakan subject matter sekaligus tajuk pameran ini yang berawal dari sebuah kesadaran menilik dasar pemahaman interelasi teks atau pemunculan intertext dari serangkaian teks-teks sebelumnya kemudian melahirkan teks baru.  Hypertext  bukan sekadar frame konvensi yang sering berkelebat dalam asumsi dan persepsi kepahaman kita pada perkembangan teknologi simulasi cyber-space atau wacana cybernetic, namun lebih kepada upaya pengenalan, pemahaman, bahkan penjelajahan relasi teks-interteks.
Dalam konteks pameran ini, Hypertext menjadi semacam pemantik kegelisahan seorang Dedy Sufriadi yang menangkap sebuah gejala non-artifisial gugusan besar layaknya gugus awan gemawan yang begitu sarat dengan teks.   Ketika teks menjadi artikulasi realitas dunia dan absurditas dunia itu sendiri maka teks menjadi persoalan penting untuk ditelusuri aspek-aspek tertentu yang melatarbelakangi atau aspek-aspek tertentu yang medesaknya hadir.  Dalam kasus seni rupa pada perspektif semiotika, teks yang muncul sejatinya sebagai penanda semata kemudian bergerak teks  [teks visual] memunculkan  ideologi baru dengan pemaknaan baru, tentu.  Dominasi ikon yang muncul adalah teks-teks yang berserak kemudian oleh Dedy menjadi spirit untuk melakukan pembacaan ulang sekaligus memaknainya.  Disinilah interteks menggugus dalam bentuk hypertext.
Pada perspektif ini, teks bagi seorang Dedy tampaknya sebuah persoalan yang menarik ketika menjadikannya sebagai subject matter, semenjak 1996 ia telah memulai ketertarikan untuk mengekspose teks dari rangkaian eksplorasi teks sebagai ikon penting dalam tiap karyanya.  Ia mengenali sekaligus mengendalikan makna di dalamnya sama ketika ia mengartikulasikan kehendaknya secara verbal, meskipun kebanyakan pandangan seringkali terjadi pendiskwalifikasian antara muatan teks itu sendiri yang berjarak dengan ruang artikulasi verbal.  Meski awalnya ia menggunakan teks sebagai media penuturkan pesan dan menyampaikan kesan tertentu dari lapis terdalam jiwanya kemudian dalam perkembangannya ia justru merasa terganggu dengan beban makna ketika teks kemudian harus mengemuka.  Disinilah ia mulai menemui kebuntuan perihal epistemologi teks yang kemudian hadir pada ruang-ruang pikir manusia untuk menandai sesuatu, menterjemahkan atau memaknainya dalam ruang nilai tertentu.
Baginya, dalam konteks hypertext hal inimerupakan interelasi yang lumat dengan persoalan interteks secara implisit. Pada dasarnya teks adalah upaya penulisan kembali atas teks-teks lain sebelumnya, artinya tak ada teks yang terbentuk tanpa memiliki muatan interteksnya, semisal sebuah relasi intertekstual seni rupa dan satra akan membentuk ‘teks baru’ yakni sastra rupa/rupa sastra, mungkin saja perspektif baru mengemuka ketika kehadiran visual form yang puitik bisa saja memiliki referensi sastra.  Dedy seolah tak acuh dengan apa-apa yang menyebabkan kemunculan gejala tertentu, selanjutnya setelah proses kreatif yang awalnya hanya sebagai upaya penelusuran emotif atas sesuatu yang begitu saja mendorongnya muncul.  Namun justru yang terpenting baginya adalah sebuah sintesa yang kemudian dipahaminya sebagai ruang-ruang spiritual.  Hal lainya adalah bagaimana ia menyadari kegelisahan jiwanya untuk menelusuri lebih dalam kekuatan-kekuatan intuitifnya sebagai amunisi untuk meledakan gagasan-gagasan kreatifnya.
Beberapa karya Dedy Sufriadi acap menuturkan catatan-catatan hariannya –perjalanan pengalaman sejati- dan pada beberapa karya terakhirnya Dedy Sufriadi tampaknya ingin memindai persoalan spiritualitasnya untuk menapaki kematangan pribadinya, ia tengah mengasah sensibilitas estetika yang kian berkecamuk dalam pemikiran-pemikirannya akhir-akhir ini.  Dedy seolah ingin merepresentasikan pernik-pernik jiwanya dalam kolase yang hendak dimaknai sebagai gejala personifikasi kesejatian hidup yang tumpang tindih dengan sengkarutnya problematik.   Dedy Sufriadi seolah menjadikan kecemasan teks verbal dengan pengelolaan teknik, permainan semantic interpretation, pengeksploitasian bentuk-bentuk abjad bersumber dari kaligrafi Arab, China, Jepang maupun Latin untuk menggugah keterlibatan emosional dan pengkrucutan visi pemahaman nilai estetika.